Home Ads

Minggu, 10 Januari 2021

Resensi Buku Arus Balik, Pramoedya A. Toer

 Judul Buku: Arus Balik

Pengarang: Pramoedya A. Toer

Penerbit: Hasta Mitra

Tahun Terbit: 2001 cetakan keempat

Jumlah Halaman: 752

Genre: Fiksi Sejarah

Nama Peresensi: Aida Mudjib



Jika Anda menyukai fiksi sejarah, maka Arus Balik karya Pramoedya adalah literatur asli Indonesia terbaik yang wajib Anda baca. Pram meramu kisah luar biasa tentang salah satu masa yang paling bergejolak dalam sejarah kerajaan Indonesia. Arus Balik menceritakan transisi Hindu dan Islam di Jawa yang berbenturan dengan kedatangan koloni-koloni Barat.

 

Buku ini sangat tebal namun jauh lebih mudah dibaca daripada karya Pram yang lain seperti Rumah Kaca atau Bumi Manusia. Gaya bahasanya lebih kekinian. Pram selalu dikenal dengan riset yang luar biasa dan memori yang mendalam dalam menulis ini awalnya menceritakan Arus Balik melalui penuturuan secara oral di Pulau Buru.

 

Di buku ini anda akan menemui hampir semua cerita menarik di dunia; Intrik politik, drama keluarga, peperangan di laut, spionase, pengkhianatan, kekejaman dan ketamakan. Semua diceritakan lewat karakter-karakter multidimensi dan plot kompleks.

 

—————————


"Masalah yang kemudian timbul adalah bala tentara Demak, walau musafir-musafirnya tak sebanyak dan tak sefanatik dulu, setiap waktu trenggono bisa tahu apa yang terjadi dimana-mana. Bila Demak tahu apa yang sedang direncanakan Tuban, Trenggono tinggal menunggu terjadinya perang pengusiran peranggi dan tanpa susah-payah mengambil alih semua usaha Tuban bahkan menguasainya pula." (Hal 723)

 

Pram membawa kita ke Jawa abad ke-16 beberapa tahun setelah kejatuhan Majapahit agung. Ada kisah Wiranggaleng, seorang pemuda desa yang kemudian menjadi panglima paling ditakuti. Kehidupannya yang penuh tantangan dan cobaan. Kita akan mengikuti kisah istrinya yang tragis namun menjalani hidup dengan tabah. Kita juga akan mengikuti juga bagaimana putra mereka, Gelar, menghadapi cobaan dan dosa masa lalu orang tuanya.

 

Ada sudut pandang rakyat, kawulo alit, ada perseteruan antara para adipati dan raja, ada kisah Sultan Trenggono Demak yang perwira, ada juga cerita bagaimana Islam dikenalkan pada warga.

 

"Tahukah kalian aturan masuk kota?" Tanya penyambutan resmi itu sekarang bertolak pinggang.

 

"Belum! Belum!" Jawab rombongan seperti pada tahun lalu juga tahun-tahun sebelumnya

 

"Atas titah Sang Patih, barang siapa dari pedalaman memasuki kota harus memperhatikan aturan ini, semua wanita kecuali anak-anak di bawah umur harus menutup dadanya paling sedikit dengan kemban. Nah, wanita-wanita awis krambil! Kalian sudah dengar peraturan ini. Ambil kemban dan pakailah!" (Hal 40)

 

Menakjubkan sekali bagaimana Pram menunjukkan evolusi budaya Jawa, pada zaman dahulu, konon wanita-wanita memang tidak menutupi dadanya hingga datang ajaran Islam. Dosen budaya saya pernah bercerita bahwa jika ingin melihat pakaian asli orang Jawa zaman dulu maka yang paling dekat adalah beberapa suku adat penduduk Bali. Di sana para wanita yang belum menikah tidak perlu menutupi dadanya, dan rambutnya dibiarkan tergerai ke depan sehari-hari. Saat wanita itu sudah menikah maka baru memakai kemben karena rambutnya akan disanggul sebagai tanda sudah memiliki suami.

 

Menurut saya Arus balik adalah Magnum Opus. tidak kalah seru dengan Lord of The Ring dan tidak kalah menyedihkan daripada Negeri Bahagia.

 

Arus Balik adalah kisah tanah air kita yang dulunya menguasai nusantara dan mancanegara. Kisah tentang arus angin dan arus air yang berbalik. Buku ini mengajarkan untuk memeluk erat nasionalisme kita. Mencintai dengan segenap jiwa raga.

 

Ketika menutup buku ini, tidak mungkin tidak bertanya-tanya: "Masih dapatkah arus balik membalik lagi?"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *