Senin, 11 Januari 2021

Resensi Buku Berdaya Belajar di Tengah Pandemi, Tim FKIP Universitas Islam Malang



Judul​​: Berdaya Belajar di Tengah Pandemi
Penulis​​: Tim FKIP Universitas Islam Malang
Penerbit​: FKIP Universitas Islam Malang
Genre​​: Nonfiksi
Tahun terbit​: 2020
Tebal​​: 193 halaman
Peresensi​: Hikmah Imroatul Afifah

Buku ini merupakan buku kedua yang saya baca di awal 2021. Buku yang memuat 18 artikel ini ditulis oleh 18 orang dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang. Dengan tingkat ketebalan normal, “Berdaya Belajar di Tengah Pandemi” berhasil merepresentasikan curahan hati mayoritas pendidik dalam menghadapi perubahan pola pembelajaran yang disebabkan oleh pandemi.

Penulis-penulis dalam buku ini memotret seluruh keresahan dan kendala selama pembelajaran dalam jaringan (daring). Latar belakang keilmuan para penulis di bidang pendidikan membuat buku ini tidak hanya menyajikan masalah, namun juga disertai solusi.

Buku dibuka dengan tulisan mengenai reformasi pembelajaran di masa pandemi. Ari Ambarwati, penulis artikel tersebut, berpendapat bahwa pembelajaran di masa pandemi ini hendaknya diarahkan pada kecakapan penyelesaian masalah. Guru bisa memformulasikan tugas dengan basis masalah, yang tentu saja disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kesiapan peserta didik. Artikel ini juga memuat tentang opini penulis bahwa kebutuhan di masa dan pascapandemi adalah proyeksi pendidikan mitigatif.
Artikel lain yang membuat saya tertarik adalah “Resiliensi Matematis di Masa Pandemi”, yang ditulis oleh Abdul Halim Fathani. Di antara hiruk-pikuk pembelajaran daring, proses pembelajaran matematika termasuk dalam kategori yang menantang. Penulis menyoroti topik resiliensi matematis yang dalam hemat saya, selama ini jarang ‘ditengok’ oleh para pendidik.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa selama pembelajaran daring, banyak guru yang tidak siap dan gagap dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan. Akibatnya, tidak jarang ditemui guru yang hanya mengirimkan tautan YouTube dan beberapa soal pada anak didiknya. Kondisi demikian tentu bisa dilalui dengan ‘biasa-biasa saja’ oleh peserta didik dengan resiliensi matematis yang tinggi. Namun bagaimana kabar mereka yang tidak cukup resilien? Solusi yang ditawarkan oleh penulis adalah dengan membuat matematika itu terasa nyata manfaatnya. Pembelajaran matematika bisa dikaitkan dengan konteks pandemi dan penanganannya saat ini. Menjadikan matematika sebagai pemodelan dari fenomena yang terjadi bukanlah sesuatu yang mudah. Namun guru harus selalu belajar dan berbenah dalam menghadapi dunia pendidikan yang tidak statis.

Permasalahan lain yang timbul selama pembelajaran daring adalah jenis evaluasi pembelajaran yang cocok dengan situasi semacam ini. Kurikulum 2013 memberikan tuntutan hasil pembelajaran yang sangat detail. Tuntutan tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dipenuhi, apalagi di masa pandemi.

Sri Wahyuni dalam artikelnya mengungkapkan bahwa yang perlu dikedepankan dalam penyelenggaraan pendidikan di masa pandemi adalah memastikan guru memahami beban ganda yang dihadapi oleh peserta didik dan orang tua. Mendikbud juga sudah mengeluarkan edaran agar guru lebih banyak melakukan pembelajaran bermakna dan tidak hanya fokus pada ketuntasan belajar. Penulis mengingatkan agar guru-guru menekankan peserta didik untuk belajar mematuhi protokol kesehatan dan mengaitkannya dengan mata pelajaran atau mata kuliah yang ditempuh.

Harapan pembelajaran bermakna yang tidak hanya fokus pada ketuntasan belajar seolah menciut ketika dihadapkan dengan sekolah yang juga ‘butuh’ nilai. Menghadapi problem tersebut, Sri Wahyuni menawarkan solusi berupa penilain otentik yang berbasis karakteristik individu. Menjelang akhir tulisannya, ia menjelaskan bahwa untuk mendekati capaian kompetensi yang dituntut dalam kurikulum, peserta didik tidak harus diberi tugas yang sama dan tidak harus dievaluasi dengan cara yang sama.

Berdaya belajar di tengah pandemi juga memerlukan kerja sama dari orang tua. Tentu kita menyadari betul bahwa tidak semua orang tua memiliki keilmuan dalam mendidik. Kondisi tersebut menyebabkan banyak ibu kelabakan dalam mendampingi anaknya selama pembelajaran daring. Nuse Aliyah Rahmawati dalam buku ini mencoba memberi solusi bagi ibu-ibu agar lebih stress-free. Agar motivasi anak tetap terjaga selama belajar dari rumah, orang tua harus memastikan bahwa anak-anak mempunyai pilihan berdasarkan sudut pandang mereka, mengapresiasinya, dan memberi perhatian penuh pada pilihan anak-anak.

Wabah yang berlangsung hampir setahun ini memberikan banyak hal-hal baru dan kesempatan. Sembari berdoa agar pandemi ini lekas berakhir, kita memang harus berbenah dalam banyak hal agar tidak digilas zaman. Perubahan dalam dunia pendidikan tidak bisa hanya dibebankan pada salah satu pihak. Pemegang otoritas, guru, dan orang tua harus senantiasa bekerja sama.

Validitas data dan argumen dalam buku ini sangat bisa dipertanggungjawabkan. Enam halaman daftar rujukan yang terdapat di akhir buku ini menggambarkan para penulisnya yang tidak asal-asalan menggarap karya ini. Meski begitu, satu-dua kekhilafan berupa salah ketik tetap saya harapkan untuk dibenahi jika buku ini berencana dicetak ulang. Akhir kata, salam hormat dari saya untuk para dosen yang memberi teladan secara nyata, bahwa pandemi tidak seharusnya menghalangi kita dalam berkarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *