Home Ads

Kamis, 04 Februari 2021

Resensi Buku Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang, Luis Sepulveda

 Belajar Solidaritas dari Kucing-Kucing Pelabuhan


Judul: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang

Penulis: Luis Sepulveda

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun: 2020

Genre: Fiksi

Tebal: vi+90 halaman

ISBN: 978-602-0788-06-7

Peresensi: Impian Nopitasari


Belum lama ini saya menyimak diskusi di forum Sraddha Institute, sebuah komunitas di kota Solo yang fokus mengkaji tentang naskah kuno. Pembahasan sore itu cukup menarik karena mengusung tema tentang kucing dalam naskah-naskah kuno, lebih tepatnya katurangganing kucing dalam masyarakat Jawa. Menurut pembuat acara, tema ini sengaja diusung karena akhir-akhir ini kucing memang sering menjadi pembahasan di media sosial. Istilah yang sering dipakai adalah bahwa kucing itu “majikan” dan pemiliknya adalah “babu”, bukan sebaliknya. Banyak kucing yang menjadi selebcat. Saya sendiri juga pengikut setia akun kucing @bintik_ di twitter dan sering tehibur karenanya. Bahkan saya rela membeli stiker Bintik saking gemasnya. Kucing memang moodbooster bagi saya. Menonton video kucing ketika sedih bisa menjadi obat. Tapi kucing juga bisa membuat sedih sampai menangis sesenggukan. Seperti yang saya alami setelah membaca novel “Jika Kucing Lenyap dari Dunia” karya penulis Jepang Genki Kawamura. 


Seperti yang saya tulis sebelumnya bahwa kucing bisa menjadi moodbooster, kali ini bukan karena videonya tapi karena novel yang mengambil tokoh utama seekor kucing. Bagi penggemar novel Amerika Latin tentu tidak asing dengan Luis Sepulveda, penulis novel “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta”. Kali ini Sepulveda menyapa pembaca anak dan remaja dengan “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang”. Sejak awal saya sudah kepincut dengan sampul buku serial Mekar dari Marjin Kiri ini. Gambar kucing hitam besar dan seekor anak camar putih yang lucu karya Svetlana Kharcuk ini memang benar-benar sesuai dengan isi cerita di dalamnya. Seekor kucing hitam gemuk bernama Zorbas yang dibuat pusing karena tiba-tiba ada camar bernama Kengah yang bertelur dan memintanya melakukan tiga hal sebelum ia mati. Camar malang yang tidak bisa terbang karena terkena tumpahan minyak dari laut itu memintanya untuk tidak memakan telur yang ia keluarkan, untuk menjaga piyik itu setelah menetas, dan hal terakhir yang menurutnya paling gila: ia diminta untuk mengajari anak camar itu untuk terbang. Hey, adakah kucing yang bisa mengajari terbang? Tapi ia terlanjur berjanji. Pantang baginya untuk mengingkari. Baru saya tahu kalau ternyata janji seekor kucing pelabuhan adalah janji semua kucing di pelabuhan itu. Zorbas meminta nasehat kepada restoran, Kolonel. Kolonel punya partner setia bernama Secretario. Ada juga kucing yang bernama Profesor, tinggal di rumah penuh tumpukan barang-barang kepunyaan pensiunan pelaut bernama Harry. Rumah ini dijaga seekor simpanse bernama Matias yang mata duitan. Saya sering gemas dengan tokoh kucing bernama Profesor ini. Ia tinggal di bagian rumah penuh buku (sebenarnya fungsi ia di situ adalah menjaga agar sekawanan tikus tidak merusak buku-buku) yang membuatnya terobsesi dengan ensiklopedia. Kucing-kucing menganggapnya sumber rujukan dengan ensiklopedia yang seringnya malah membuat urusan tambah runyam. Saya tidak bisa tidak tertawa dengan kesotoy-an Profesor. Membayangkan kejengkelan Zorbas, Kolonel dan Secretario. Belakangan mereka memanggil kucing laut bernama Banyubiru untuk memecahkan masalah mereka. Dialog yang disajikan juga membuat seolah-olah itu memang dunia binatang. Seperti kata “meongan” untuk mengganti “omongan”.


“Itu persisnya yang ingin kuusulkan. Mengapa kucing ini merebut meongan dari mulutku?” Kolonel Protes. (halaman 24)


Isu Lingkungan dan Keluarga

Selain dikenal sebagai seseorang yang aktif berpolitik sejak muda untuk menentang rezim militer Pinochet di Cile, Sepulveda juga dikenal sebagai seseorang yang giat dalam kampanye lingkungan hidup. Novelnya yang berjudul “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” membahas tentang perusakan alam amazon oleh manusia-manusia serakah. Dalam “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” Sepuvelda bersuara lewat tokoh macan kumbang untuk menyuarakan protesnya. Dalam novel anak “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” ia menyoroti perusakan laut oleh kapal tanker minyak yang sering menumpahkan minyaknya di laut. Ia membuat tokoh camar yang mati terkena tumpahan minyak sebagai bentuk protesnya. Tapi Sepuvelda juga ingin menunjukkan bahwa walaupun banyak manusia perusak, masih ada manusia yang baik. Seperti tokoh Pak Tua dan orang-orang di pelabuhan yang sayang dengan kucing-kucing dan binatang lain.


Tema keluarga dan persahabatan kental sekali dalam novel ini. Zorbas yang merawat seekor camar yang tiba-tiba membuatnya menjadi “Mami”. Saya membayangkan jika Zorbas ini adalah manusia, ia adalah seorang laki-laki yang kekar lalu tiba-tiba harus merawat bayi. Menyuapi, mengganti popok, dan meninabobokan. Sepertinya penulis novel memang ingin menunjukkan bahwa hal itu lumrah saja dilakukan oleh laki-laki. Laki-laki juga bisa menjadi seorang “ibu”. Saya tersentuh bagian Zorbas begitu menjaga telur camar itu agar tetap hangat dan aman dari gangguan kucing preman di seberang. Momen ketika telur itu menetas membuat tertawa sekaligus haru.


Zorbas tegakkan telur itu dengan kaki-kaki depannya dan dengan demikian melihat bagaimana bayi burung camar di dalamnya mematuk-matuk sampai terbuka lubang yang darinya sebuah kepala putih kecil basah menyembul.


“Mami!” cicit piyik itu.


Zorbas tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu warna bulunya hitam, tapi ia yakin emosi dan rasa malu telah mengubahnya menjadi kucing merah muda (halaman 45).


Momen para kucing yang begitu solid dalam merawat anak camar ini juga menarik meski banyak kekonyolan yang dilakukan mereka. Saya jadi teringat tokoh Garfield dan Puzz in Boots yang pernah saya tonton. Saya membayangkan jika cerita ini difilmkan dalam bentuk animasi, sepertinya akan menarik. Novel ini khas novel Amerika Latin yang tipis namun padat. Novel sekali duduk yang membuat pembaca akan teringat seumur hidup. Novel yang mengangkat isu berat tentang kerusakan lingkungan ini dikemas dengan lucu dan menyenangkan. Terjemahan yang ciamik dari Ronny Agustinus menambah novel ini menjadi lebih hidup. Walau tentu saja sedih jika mengetahui fakta kita tidak akan membaca karya terbaru dari Luis Sepulveda sebab ia telah berpulang pada 16 April 2020 lalu karena Covid-19.


Mendungan, 2 Februari 2021



Impian Nopitasari. Penulis fiksi berbahasa Indonesia dan Jawa. Buku yang sudah terbit di antaranya Kembang Pasren (2017) dan Si Jlitheng, Dongeng Bocah Abasa Jawa (2020).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *