Kamis, 29 April 2021

Resensi Buku Dewi Kawi: Cinta Antara Eling dan Kawi, Arswendo Atmowiloto


 Judul: Dewi Kawi: Cinta Antara Eling dan Kawi

Penulis: Arswendo Atmowiloto

Jumlah hal: 131

Penerbit: Gramedia

Genre: Fiksi

Tahun Terbit: 2008

Peresensi: Zahrotun Nafisah


Saya agak mengernyitkan dahi saat membaca judul buku ini. Saya pikir ini kisah mistis tentang legenda Gunung Kawi. Tapi ternyata tidak ada kaitannya sama sekali. Novel ini ditulis oleh sastrawan terkemuka, Arswendo Atmowiloko. Berkisahkan tentang asmara yang tak selesai antara Eling dan Kawi.


Dalam novel ini, Eling, sang tokoh utama diceritakan memiliki kehidupan yang sangat miskin. Ia bersama adiknya, Waspodo, pernah hidup dari sisa-sia kol busuk yang dipungutnya dari pasar. Diperas hingga airnya tak bersisa, lalu dijual. Pemilihan nama tokoh oleh penulis sangatlah filosofis. Eling yang berarti ingat dan Waspodo yang berarti waspada, hati-hati, menyampaikan pesan kepada kita agar dalam hidup senantiasa berpegang pada dua prinsip ini.


Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran, maju-mundur-maju. Dimulai dari kesuksesan Eling bersama Waspodo membangun usaha dari nol. Hingga suatu hari keduanya berhasil memiliki perusahaan yang mengelola beberapa brand dengan aneka produk. Setelah diceritakan tentang kesuksesan mereka, kemudian penulis menggeretnya lagi ke masa saat Eling dan Waspodo benar-benar miskin lalu merintis usaha demi usaha.


Perusahaan Eling dan Waspodo semakin berkembang dengan pesat. Tiap tahun mereka berdua mengeluarkan inovasi baru bersama timnya. Tapi ternyata, di balik kesuksesan itu, bagi Eling ada sosok yang sangat berperan penting. Ia adalah seorang perempuan yang bernama Kawi, meski itu bukan nama asli. Di titik itulah, Eling merasa harus bertemu Kawi untuk menyampaikan terima kasih.


Eling meminta Podo untuk mencari keberadaan Kawi. Ia berkeliling kota, menuju tempat di mana dulu mereka menjalin kasih. Kawi adalah seorang pelacur, maka Podo pun mencarinya hingga ke lokalisasi terdahulu, tempat Kawi bekerja.


Ya, Eling dan Kawi bertemu di lokalisasi. Ketika muda, saat Eling sudah mulai bekerja meski hanya serabutan, Eling menghibur dirinya dengan mendatangi lokalisasi. Rupanya Eling tak sekadar merasakan kepuasan sesaat, tapi ia merasakan nyaman berada di dekat Kawi. Ternyata Kawi pun merasakan hal yang serupa. Keduanya lalu menjalin cinta tanpa sepengetahuan Sang Mucikari.


Kadang, saat Eling tak punya uang, Eling akan diam-diam mengunjungi Kawi dan menemuinya di belakang rumah lokalisasi. Mereka hanya bertemu dan menuntaskan rindu, meski berkali-kali Kawi akan dicari dan diteriaki oleh mucikarinya. Kisah cinta mereka terus berlanjut dan Kawi meminta untuk dinikahi. Tapi Eling ragu dan merasa belum siap. Meski Kawi berulang-ulang meyakinkannya jika mereka menikah maka Kawi akan memiliki alasan untuk bisa keluar dari pelacuran itu dan akan memiliki kehidupan yang lebih baik.


Singkatnya, kisah cinta mereka tak usai. Keduanya tiba-tiba saling menjauh, lebih tepatnya Kawi menjauhi Eling. Meski rindu tak tertahankan, tapi Eling tak bisa berbuat banyak. Kawi akhirnya pulang kampung dan menikah di sana. Kehidupan Eling berlanjut tanpa Kawi.


Arswendo menulis novel ini dengan sangat filosofis. Bahkan ia berkali-kali seperti menasihati pembaca melalui tulisannya mengenai kehidupan. Ada beberapa paragraf yang menurut saya sulit dimengerti karena sangat dalam maknanya. Bahkan ia mengatakan, beberapa peristiwa mungkin hanya sebuah rekontruksi dalam pikiran sehingga memiliki banyak versi. Lalu pembaca malah diminta untuk berpikir mana versi yang benar.


Begitulah kisah asmara Eling dan Kawi. Pencarian dihentikan, terutama setelah Podo meninggal. Eling merasa tak perlu untuk bertemu dengan Kawi. Bukan karena tak bisa mengubah apapun setelah keduanya bertemu. Tapi Eling tak ingin Kawi merasa bersalah dan rendah setelah pertemuan itu terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *