Home Ads

Sabtu, 05 September 2020

Resensi Buku Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna, Najelaa Shihab


Judul: Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna
Penulis: Najelaa Shihab
Penerbit: Literati
Tahun terbit: Juli, 2020
Cetakan: Pertama
Genre: Nonfiksi
Jumlah Hlm: 160
Peresensi: Khalimatu Nisa

Najelaa Shihab dikenal sebagai penggerak dunia pendidikan, hampir seluruh buku yang ditulisnya berkisar pada tema proses belajar dan anak. Namun di buku ini, Elaa, begitu ia akrab disapa, muncul dengan tema baru –meski sudah sering ia singgung di kanal Youtube dan platform media sosial lainnya, yaitu isu perempuan.

Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna (CUPYTS) memuat 17 esai yang mencoba mendalami sekian macam pengalaman yang lekat dengan kehidupan perempuan seperti ragam stigmatisasi, oposisi biner atas pilihan-pilihan hidup: ibu bekerja atau tidak bekerja, menikah atau melajang, hingga relasi perempuan dengan diri dan sekitarnya: perempuan dengan tubuhnya, perempuan dengan sesama perempuan hingga ibu dan anak perempuan. Di tiap-tiap pembahasannya, Elaa mencoba bersikap bijak dengan melihat dari berbagai perspektif tanpa ingin lebih jauh menyudutkan perempuan. Argumen Elaa secara keseluruhan adalah untuk mempertajam peran perempuan di segala lini melalui kolaborasi antara perempuan dan laki-laki maupun sesama perempuan. Perempuan bermakna, apapun pilihannya, betapapun mereka tidak sempurna.

CUPYTS adalah hasil perenungan Elaa dalam menjalani peran sebagai perempuan seumur hidupnya, sekaligus melakukan observasi terhadap kehidupan perempuan di sekelilingnya.  Oleh karenanya, buku ini memilih hadir sebagai teman refleksi bagi para perempuan, dengan bahasa yang ringan namun bertenaga dan cenderung puitis. Buku ini juga mencukupkan diri dengan menjadikan pengalaman yang dialami perempuan secara jamak sebagai pijakan analisis tanpa merasa perlu membubuhkan pelbagai data atau sitasi agar tampak ilmiah. CUPYTS lebih ingin mencurahkan cinta –dengan definisi yang luas, bagi perempuan dengan segala atribut yang melekat padanya.

Buku ini diawali dengan topik kompetisi antar perempuan, isu klise yang sering tidak disadari sebagai bentuk kekerasan melalui penilaian yang sifatnya mencibir atau pujian yang sifatnya menyindir. Lingkar perundungan ini hadir hampir di tiap fase keidupan perempuan, mulai dari fase remaja tentang bagaimana kepopuleran diraih melalui eksploitasi tubuh hingga fase menjadi ibu tentang segala pilihan yang diambil. Menurut Elaa, kecemasan terhadap aneka beban hidup adalah pangkal dari masalah ini. Perempuan yang mempertanyakan perempuan lain seringkali yang paling kebosanan sehingga perlu menjadikan kehidupan orang lain sebagai hiburan. (hlm. 17) Kunci untuk keluar dari relasi ini adalah mengganti sikap agresi dengan afirmasi, menunjukkan lebih banyak empati dan fokus saling mendukung.

Isu lain yang sangat dekat dengan perempuan adalah melekatnya stigma terhadap perempuan dewasa yang “sendirian” dan “kepinteran”. Mereka yang melajang atau menjadi ibu tunggal dianggap tak bahagia, sebab definisi bahagia disematkan pada status berkeluarga. Di buku ini Elaa menegaskan bahwa bahagia sumbernya adalah dengan mencintai diri sendiri dan lingkungan yang supportif. Sementara itu, dalam membangun relasi antara perempuan dan laki-laki basisnya bukan hierarki intelektualitas melainkan sikap saling menghormati di mana masing-masing tetap punya ruang untuk bertumbuh terlepas dari label “pintar” yang justru membatasi.

Ibu bekerja, pengalaman yang dilakoni Elaa sendiri, banyak mendapat porsi dalam CUPYTS. Setidaknya tiga esai mengulas soal ini. Menjadi ibu bekerja selalu menantang dan dipertentangkan dengan tugas pengasuhan. Elaa mengingatkan kembali bahwa pengasuhan adalah tugas bersama, berkarya dan mengembangkan diri bisa melengkapi peran seorang ibu alih-alih menegasi. Semua perempuan multiperan dan butuh lebih banyak dukungan ketimbang diberi tambahan beban kecemasan.

Di sisi lain, relasi ibu dan anak perempuan juga menyita banyak perhatian. Hubungan ini seringkali penuh ketegangan yang mana relasi toxic ini berpotensi diwariskan ke generasi-generasi selanjutnya. Perbedaan pandangan sering jadi sumber perselisihan. Untuk menciptakan hubungan hangat, tafsir cinta ibu dan anak perempuan harus adaptif terhadap perubahan zaman. Kuncinya, menurut Elaa, keduanya perlu melihat dari sudut pandang yang lain dan saling mengerti.
Dua tema besar lain dalam CUPYTS adalah soal relasi perempuan dengan tubuh dan kesehatan mental. Salah satu isu terkait tubuh adalah bahwa sejak remaja, society biasa mengukur harga diri perempuan melalui fisik alih-alih prestasi atau minat dan kegemaran. Ini menumbuhkan benih-benih kecemasan untuk mencapai imaji tubuh yang dianggap ideal. Di titik ini para remaja butuh dukungan di mana peran orang tua menjadi sangat urgent untuk menghadirkan diskusi tentang nilai-nilai yang lebih esensial. Sementara itu, tekanan demi tekanan terhadap perempuan rawan mengancam kesehatan mental. Elaa banyak bercerita pengalamannya menjadi psikolog dalam menangani kasus-kasus ini.  

Secara keseluruhan, buku ini cocok dibaca bagi perempuan yang punya banyak keresahan akan identitas keperempuanannya, yang tengah berupaya menemukan bahagia dan makna dalam  hidupnya, yang ingin mendapat suntikan keberanian untuk menghadapi dunia, dan mereka yang ingin berhenti julid untuk menguatkan perempuan di sekitarnya. Satu hal yang menjadi poin tambahan buku ini adalah tata letak yang manis, penuh ilustrasi serta warna-warni,  menggambarkan aneka rasa dalam kehidupan perempuan. Jika ada satu hal yang dianggap sebagai kekurangan adalah tidak adanya daftar isi untuk memudahkan melacak tiap-tiap esai. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi esensi dan energi yang ingin disalurkan buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *